Terkadang ketika saya sedang menyetir dan tiba di sebuah persimpangan lampu merah , saya sering sekali melihat anak anak jalanan atau peminta minta mulai berjalan mendekati kaca dan menadahkan tangannya seraya memelas untuk diberikan sekedar uang receh sebagai penyambung hidup mereka hari itu, lalu seketika itu pula karena tergerak oleh rasa kasihan saya , saya mulai mengeluarkan beberapa koin uang receh dan memberikannya dengan penuh rasa kasihan, sebuah rasa kasihan yang sangat manusiawi, lalu . . . sesaat kemudian mulailah lampu hijau pun menyala dan saya kembali asyik menyupir dan dengan cepat meninggalkan sang peminta minta dibelakang kendaraan saya , tanpa mengingatnya kembali.
Suatu saat . . . kejadian tersebut terulang kembali dan lalu berlalu demikian saja, namun hari itu terasa agak berbeda, ketika saya merasa kasihan dengan mereka dan mulai memberikan beberapa receh pada sang peminta minta, sontak saya berfikir yang lebih mendalam ,
" Salim . . . .kau kasihan yah melihat mereka ?" kata sebuah suara dalam bathin saya,
" Ya, saya kasihan dengan mereka yang tidak mampu berbuat apa apa dengan kondisi yang mereka hadapi saat ini "
"Lalu . . . .apakah kau pernah demikian juga rasanya kasihan dengan dirimu sendiri, kau melihat orang yang lemah dan tak mampu tersebut dengan rasa kasihan , tapi pernahkah kau mengkasihani dirimu sendiri yang juga tidak mampu utuk mengontrol apa lagi keluar dari rutinitas keseharianmu, walau hanya untuk memberikan waktu bermain bagi anak anakmu , ataupun sekejap waktu untuk istrimu berbagi cerita, tentang tingkah anak anakmu pada hari itu ?, pernahkah kau merasa kasihan dengan dirimu sendiri yang telah terjerat dan terpenjara oleh rutinitas yang mengatas namakan "perjuangan untuk keluarga " sedang untuk hal tersebut kau malah menyia nyiakan mereka, dan bisa jadi kau malah asyik dengan duniamu sendiri dan lupa bahwa kau telah menjadi seorang ayah ?. . . . . . ."
" Aku. . .. . . . . "
" lalu pernahkah kau kasihan dengan dirimu sendiri yang gila dengan pekerjaanmu sehingga kau melupakan Tuhanmu yang kau sebut sebut itu, dan kau tak berdaya menghadapi keadaanmu tersebut, dan terus saja terpenjara oleh keinginan egomu dan rasa ingin dihorati dan berkuasamu. . .?"
" Salim , bukankah kau lebih pantas dikasihani ketimbang orang peminta minta yang kau berikan recehan tersebut. . .mereka masih merasa merdeka dengan keadaan diri mereka, sedangkan kau . . . . . . . kau merdeka atas pasungan yang kau buat sendiri, sebuah pasungan atas nama keluarga yang kau bela sedang pada hakekatnya yang kau bela adalah harga dirimu yang tak pernah siap untuk orang melihatmu dengan apa adanya"
" Kau selalu bertopeng kebaikan sedang hanya Allah yang tahu kebusukan dalam dirimu, mau sampai kapan kau terus seperti ini, mengasihani orang lain padahal dirimu sendirilah yang pantas dikasihani, melihat orang gila dengan perasaan kasihan sedang kau sendiri sudah lebih gila ketimbang mereka, kau baguskan pakaian dzahirmu tapi tak pernah kau lihat pakaian bathinmu yang centang prenang, berantakan"
" Apakah pantas kau disebut sebagai seorang motivator sedangkan untuk memotivasi dirimu sendiri kepada Allah saja tak mampu, sudah berapa banyak ayat Al Quran yang kau hafal ketimbang buku buku psikologi yang kau baca ? "
Salim kau lebih pantas dikasihani ketimbang sang peminta minta tersebut.
sesaat kemudian butiran crystal hangat lembut jatuh mendinginkan hatiku yang sedang galau, ya Allah aku ingin kembali seperti dulu kala kita selalu dekat dan lembut dalam jiwa.
